Monthly Archives: January 2011

Blogger, blogger dan WordPress

Mana yang benar? Blogger atau Blogspot? WordPress[dot]com atau WordPress[dot]org?

Yeah, saya sering menjumpai kerancuan istilah tersebut. Terutama pada blog-blog yang membahas tentang blogging. Banyak narablog yang membahas topik seputar Blogger™ dan WordPress karena keduanya cukup populer digunakan. Yang saya lihat adalah adanya ambiguitas dan salah kaprah dengan istilah-istilah tersebut.

Blogger, blogger atau Blogspot?

Blogger™ adalah produk, sedangkan blogspot (tepatnya blogspot[dot]com) adalah nama domain. Jadi, gunakanlah Blogger™ untuk menyebut produk layanan web publishing dari Google inc. dan bukan blogspot. Perhatikan penggunaan huruf kapital dan atribut trade mark. Penulisan ini sesuai dengan Google Permission Guidelines tentang penulisan merk dagang dari produk-produk Google inc.

Nyatanya, saya jarang menjumpai penulisan Blogger™ — dengan huruf kapital disertai logo trade mark — bisanya ditulis Blogger, atau blogger begitu saja. Hal ini menciptakan ambiguitas karena istilah blogger berarti orang yang memiliki & mengelola sebuah blog. Dalam sebuah tulisan, hal ini bisa membingungkan pembaca. Coba perhatikan contoh penulisan berikut:

  1. “Saya adalah blogger yang menggunakan blogger untuk ngeblog”
  2. “Saya adalah blogger yang menggunakan Blogger™ untuk ngeblog”

Yeah, saya rasa kalimat kedua lebih jelas dan mudah dipahami. 🙂

WordPress.com atau WordPress.org?

Dalam ToS-nya, layanan blog hosting dari Automattic inc. diberi nama “WordPress.com” sedangkan “WordPress.org” adalah domain yang diperuntukkan bagi piranti lunak WordPress. WordPress sendiri adalah sebuah piranti lunak yang berfungsi sebagai media publikasi dan manajemen konten — dapat juga disebut Content Management System — Jadi, ketika seseorang menuliskan WordPress — tanpa embel-embel [dot]com atau [dot]org — berarti merujuk pada piranti lunak tersebut, dan bukan pada layanan blog hosting gratis.

Ok ok, ini hanyalah masalah kecil pada penulisan. Tidak masalah apakah anda menuliskan Blogger, blogger, blogspot, wordpress.com, wordpress.org, WordPress di blog sendiri karena itu otoritas anda. Sekedar info saja, tidak jarang saya menjumpai percakapan semacam ini pada topik seputar oprek blog:

“Wah, saya pakai wordpress, tidak bisa dioprek…”

kemudian dijawab:

“Kalau begitu pakai yang wordpress.org…”

nah lo…

Advertisements

Menyisipkan Gambar Dalam Tulisan Blog

Kita pasti sering menyisipkan gambar dalam tulisan-tulisan yang kita terbitkan. Tujuannya bermacam-macam, mulai dari kebutuhan penggunaan gambar untuk mendukung informasi hingga sekedar iseng untuk mempercantik tampilan artikel.

Saya sendiri juga cukup sering menggunakan konten gambar untuk mendukung konten teks. Menambahkan gambar memang tidak sukar. Hanya saja, saya pikir sebaiknya kita tidak sembarangan dalam melakukannya. Berikut ini sedikit tips yang merupakan pertimbangan saya dalam menyisipkan gambar pada konten.

Gunakan Gambar-gambar Yang Relevan dengan Tulisan.

Perlu diingat, kebanyakan pengunjung memindai baru membaca. Hampir bisa dipastikan, gambar adalah obyek pertama yang dipindai. Jadi, penggunaan gambar yang tepat bisa jadi lebih efektif daripada judul yang baik.

Jangan menggunakan gambar yang tidak relevan dengan isi tulisan. Obyek-obyek tersebut merupakan distraksi, mengganggu proses membaca. Pikirkan juga pemborosan bandwith.

Gunakan Gambar Yang Berkualitas

Oh yeah! Pertama, jangan menggunakan gambar-gambar berwatermark dari stock images — seperti istockphoto misalnya. Saya pernah menjumpai hal tersebut pada beberapa blog yang membahas tentang profesionalisme blogging. Terkesan lucu jadinya.

Kedua, jangan menggunakan gambar “generik” meskipun gambar itu bagus. Kita pasti sering menjumpai gambar/foto orang berpakaian rapi seperti bisnismen tersenyum, bersalaman, menyanding laptop dan semacamnya. Gambar-gambar seperti itulah yang saya sebut dengan gambar generik. Bisa dipastikan gambar tersebut netral meskipun tidak relevan dengan tulisan. Hanya sebatas dekorasi dan hampir tidak diperhatikan, yang berarti pemborosan bandwith.

Contoh di bawah ini adalah yang saya maksud dengan gambar “generik” — dan juga berwatermark — dari salah satu situs stock image.

Kita bisa “berusaha” lebih keras dengan mencari gambar-gambar yang unik. Yeah, masih banyak yang bisa digunakan selain gambar-gambar seperti di atas. Cara lain adalah degan membuat konten gambar sendiri atau membeli dari stock images.

Perhatikan Ukuran

Ukuran gambar sangat penting untuk diperhatikan. Tidak hanya panjang dan lebarnya saja, tetapi mencakup kualitas piksel pada gambar tersebut. Perhatikan, sebuah gambar bitmap (bukan vektor) pasti terlihat buruk saat ukurannya diperbesar. Gunakan gambar berukuran besar jika memang dibutuhkan. Yang perlu diingat, gambar besar berarti waktu muat lebih lama.

Contoh penerapan resizing gambar yang tidak baik.

Perhatikan juga letak gambar, apakah melayang (float) kanan, kiri, atau di tengah. Perhatikan negative space antara gambar dengan tulisan. Jika anda memahami penerapan grid system pada paragraf akan lebih baik lagi.

Simpulan

Gambar-gambar pada posting blog adalah konten. Gambar bisa berfungsi sebagai pendukung penyampaian informasi selain sekedar dekorasi atau tempat break saat membaca.